Rabu, 05 Oktober 2016

Kecintaanmu terhadap sesuatu akan membuatmu buta dan tuli


Di Dalam sebuah rumah yang bersinar kebaikan kebaikan iman di setiap sudut di sudut-sudut rumah.
Dalam sebuah rumah yang terlintas gambaran pengorbanan dan perjuangan dalam ingatan semua penghuninya. Di situlah Habib bin  zaid Al Ansori tumbuh dan berkembang.
Ayahnya,zaid bin ashim,salah seorang pemuka di Madinah. Dia juga merupakan satu di antara 70 orang yang menyaksikan baiat 'aqobah. Berjanji setia di hadapan Rosulullah s.a.w. zaid berjanji kepada rasulullah beserta kedua anak dan istrinya.
Ibu habib,ummu ammarah nasibah al Maziniyyaj,merupakan wanita pertama yang membawa senjata membela agama Islam dan membela rosulullah,Nabi akhir zaman.
Saudara habib, abdullah bin zaid yang menjadi tebusan rosulullah pada perestiwa perang uhud.Hingga Rosulullah mengatakan untuk mereka, semoga alloh memberkahi kalian dari kalangan ahli bait (keluarga rosulullah),semoga alloh menyayangi kalian dari kalangan ahli bait.
Cahaya iman masuk ke dalam hati habib bin zaid sejak kecil dan berusia belia. Keimanan tertancap kuat dalam dirinya.
Alloh juga menakdirkan habib bin zaid untuk pergi bersama ibu,bapak,paman,dan saudaranya menuju makkah bersama dengan orang-orang mulia pilihan. Kepergian mereka membuat catatan dalam sejarah. Karena habib kecil mengulurkan tangannya dan berbaiat kepada rosulullah di bawah gelapnya malam pada peristiwa baitul Aqobah.
Semenjak hari itu, Rasulullah menjadi orang yang paling dicintai dari pada ayah dan ibunya.Islam menjadi hal yang sangat berharga baginya daripada nyawa yang berada dalam tubuhnya.
Ia tidak bisa ikut dalam perang badar, karena waktu itu habib masih kecil sekali.
Dia juga ditakdirkan untuk belom bisa menjumpai kemuliyaan besar pada perang uhud, karena waktu itu ia belom bisa membawa senjata.
Namun setelah ia dewasa,ia mengikuti semua peperangan yang ia lakukan bersama Rosulullah s.a.w. Disetiap peperangan itu ia membawa panji dan kemuliyaan, membawa lembaran keagungan,dan membawa sikap yang pemberani.
Semua peristiwa besar dan manakjubkan itu pada hakikatnya hanya sebuah persiapan besar untuk sebuah sikap yang sangat besar.
Saya akan menceritakan sebuah kisah yang sangat menggetarkan hati manusia sejak masa kenabian Rosululloh hingga pada masa kita saat ini.
Akan saya tuliskan pada bab berikutnya.bersambung.

Tidak ada komentar: